Skimming dan Scanning …….

    Oleh : Mohamad Solikin

    Seringkali kita menjumpai bahkan mendapati suatu berita atau informasi yang dilebih-lebihkan, sehingga susah rasanya memastikan kebenaran dari berita atau informasi tersebut. Lebih susahnya lagi, melebih-lebihkan sesuatu tersebut telah menjadi makanan sehari-hari dan sehingga merupakan bagian dari tren masyarakat yang menyatakan dirinya serba modern, kontemporer, pop atau masa kini.
    Gejala ini hampir menghiasi semua sisi kehidupan kita melalui berbagai media dan teknologi baik langsung maupun tidak langsung, bersifat individu, massa maupun sosial. Sebut saja berita atau opini tentang selebriti, kriminal, politik, korupsi, bencana, aksi sosial, dan lain sebagainya yang disajikan dalam kemasan entertainment, news, features, liputandan lainnya yang sengaja diskenariokan ataupun digambarkan dengan bombastis.
    Ada 2 jenis menyangkut hal-hal yang serba dilebihkan tersebut. Pertama, disebut dengan hyperbole artinya bahwa melebih-lebihkan sesuatu yang memang didukung oleh fakta. Sebuah berita atau informasi terhadap kejadian tertentu yang memang benar-benar ada, hanya saja berita atau informasi yang disampaikan melebihi faktanya. Fakta yang ada dilebih-lebihkan atau dibesar-besarkan sedemikian rupa, sehingga bisa jadi menghilangkan fakta sebenarnya. Kedua adalah hyperreality, jenis ini memperlihatkan bahwa berita atau informasi yang dibesar-besarkan adalah tidak lagi mendasarkan pada kenyataan atau ia berada di luar fakta yang sebenarnya. Sehingga jenis yang terakhir ini memang benar mengada-ada, sama sekali tanpa ada faktanya. Berita atau informasi tersebut dibuat sedemikian rupa dengan maksud dan tujuan tertentu yang kadang diharapkan akan terjadi di kemudian hari.
    Adalah mudah menemukan kedua jenis berita atau informasi tersebut. Hanya saja persoalannya apakah yang kita terima tersebut adalah termasuk kategori pertama atau kedua. Kemudian, bilamana diketahui pada jenis kategorinya, bagaimanakah derajat kebenaran material atas informasi atau berita tersebut. Hal inilah sebenarnya yang membuat sulit untuk memastikan tentang kebenaran itu.Sesungguhnya pada posisi inibekerja berbagai persepsi, impresi dan keinginan-keinginan, bahkan keinginanuntuk mewujudkan suatu gagasan (yang cenderung destruktif) ke dalam wujud aksi atau keinginan yang cenderung mengarahkan untuk merealisasikan gagasan tersebut di masa depan. Pada posisi ini juga, sesungguhnya berbagai aktivitas yang selama ini kita kenal bekerja untuk mempengaruhi pihak lain seperti upaya pencitraan, aktivitas mengembangkan isu, membangun opini hingga bentuk penyesatan informasi lainnya.
    Tentu pekerjaan berat berikutnya adalah bagaimana seharusnya menyikapi hal tersebut padahal pemenuhan informasi yang akurat diperlukan untuk pengambilan keputusan. Bisa jadi orang sudah terlanjur menjatuhkan vonis dan memberikan penilaian yang salah terhadap subyek atau obyek tertentu, kemudian berkembang juga prasangka yang tidak berdasar, dan seterusnya. Sehingga untuk mengambil keputusan serta menentukan sebuah langkah yang pasti, perlu kerja keras dan teliti. Dalam hal ini, upaya pemenuhan kecukupan data dan informasi sama halnya dengan mengembalikan benang kusut yang basah. Perlu kerja keras dan ekstra hati-hati. Apalagi bila keputusan tersebut menyangkut nasib dan masalah orang banyak atau kepentingan publik, dan bernilai strategis. Keputusan yang salah dapat mengakibatkan malapetaka bagi banyak orang. Karena itu, langkah pertama yang mesti dilakukan segera memeriksa berita tersebut dengan teliti sehingga akibatnya tidak menimpakan suatu musibah pada banyak orang, dimana mereka sendiri tanpa mengetahui permasalahannya. Berikutnya keputusan yang salah juga menyebabkan kita menyesal atas apa yang kita lakukan.
    Karena itulah, sungguh kita harus bersyukur bahwa pada dasarnya dan tanpa kita sadari ternyata kita semua sudah dianugerahi suatu kemampuan naluriah yang biasa kita lakukan sebelum memutuskan sesuatu. Kemampuan ini nampak begitu otomatis, bekerja cepat sehingga sangat membantu setiap manusia untuk memastikan bahwa pilihannya tersebut sudah cukup untuk mengambil keputusan, menentukan langkah atau memberikan penilaian terhadap suatu masalah tertentu yang dihadapi atau obyek tertentu dihadapannya.
    Kemampuan itu dikenal dengan sebutan skimming dan scanning. Skimming adalah respon terhadap lingkungan sekitar dimana kita biasa melakukannya sebelum mengambil keputusan. Aktivitas ini dimaksudkan untuk mengetahui data maupun informasi terhadap persoalan yang akan diputuskan tersebut secara umum. Sehingga skimming biasa dilakukan secara acak dan melompat-lompat, tidak berurutan ataupun beraturan. Ia digunakan untuk melihat, mengamati dan menganalisa terhadap hal-hal yang dianggap perlu dan penting oleh diri kita karena memang dianggap membantu pengambilan keputusan. Berbeda halnya dengan scanning, aktivitas ini bisa dimaknai dengan “memindai”. Artinya bahwa kita merespon terhadap obyek permasalahan yang kita hadapi dengan cermat dan detil. Bahkan untuk hal-hal yang sifatnya sensitif dan kompleks, aktivitas scanning akan bekerja sangat ekstra dan membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan ketika menghadapi hal-hal yang dianggap biasa-biasa saja. Namun maksud yang diharapkan dengan aktivitas ini juga sama dengan skimming, yaitu ingin mendapatkan cukup data dan informasi sehingga keputusan yang akan diambil sesuai dengan harapan dan mempunyai presisi yang tinggi.
    Dalam keseharian kita bisa mengambil contoh bagaimana kedua aktivitas tersebut biasa dilakukan baik menyangkut diri maupun publik. Untuk memutuskan lamaran seorang calon menantu, orang tua si gadis tanpa disadari pasti akan melakukan kedua aktivitas tersebut. Hanya tinggal melihat seberapa besar tingkat kompleksitas terhadap data dan informasi mengenai latar belakang, kepribadian, orang tuanya, dan informasi lain yang diperlukan. Ketika kompleksitas permasalahan rendah sementara ketersediaan data dan informasi cukup maka akan digunakan teknik skimming, sedangkan pada kompleksitas permasalahan tinggi maka teknik scanning yang akan digunakan. Sekumpulan data dan berbagai informasi yang didapatkan dari proses itulah, yang kemudian menjadi bahan bagi orang tua si gadis untuk memutuskan dapat menerima atau menolak lamaran calon menantu. Demikian pula bila menyangkut persoalan-persoalan publik.Tahapan dari rangkaian proses skimmingdan scanningakan berjalan seiring dengan tingkat kompleksitas permasalahan dan kecukupan ketersediaan data dan informasi yang diperlukan.
    Kualitas hasil skimming maupun scanning sangat tergantung pada asupan data dan informasi, makin lengkap dan komprehensif data dan informasi tersebut maka makin tinggi nilai presisinya. Sebaliknya ketika tidak cukup data dan informasi, nilai presisinya makin rendah dan kemungkinan risiko dalam pengambilan keputusan yang salah atau tidak tepat juga tinggi. Dalam keterbatasan itulah, seringkali untuk melengkapi asupan data dan informasi yang dibutuhkan, dalam proses skimming maupun scanning dapat dibantu oleh orang lain atau dengan seperangkat alat dan teknologi seperti satelit, CT Scan, MRI dan seterusnya. Media-media tersebut pada dasarnya hanyalah berfungsi untuk membantu serta melengkapi ketersediaan data dan informasi agar proses pengambilan keputusan tidak meleset jauh dari yang diharapkan.
    Namun persoalannya apapun yang dianggap telah terdapat kecukupan data dan informasi, nampaknya belum tentu membuat pengambil keputusan yakin atas atas apa yang akan dilakukannya. Selengkap apapun data dan informasi tersebut, semua tetap kembali pada subyek pengambil keputusan. Keragu-raguan bisa jadi muncul dan menghantui, akan tetapi hal ini juga tetap kembali pada diri pengambil keputusan. Sehingga pilihannya harus dengan yakin dan berani segera diambil keputusan atau menundanya untuk berpikir kembali atau yang terakhir sama sekali tidak diambil keputusan. Melakukan sesuatu atau sama sekali tidak melakukan sesuatu. Bagi pemegang amanat, dengan kadar masing-masing, pilihan manapun juga tetap akan dimintai pertanggungjawaban.
    Oleh karena itu, banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan pada kondisi semacam di atas. Dahulu, sebelum seseorang mengambil keputusan penting harus bersusah-susah laku tirakat dulu, menyepi, menyendiri dan merenung sambil mendekatkan diri pada yang Maha Tinggi. Berserah diri dan mohon petunjuk agar pilihan keputusan yang diambil benar, tidak meleset dan bermanfaat, bukan sebaliknya sehingga berakibat menyesatkan, kerugian dan penyesalan. Hanya saja bagaimana dengan sekarang? Apa mungkin hal tersebut masih dan bisa dilakukan pada jaman ketika orang mengandalkan materi, menuhankan uang, menjunjung tinggi teknokrasi dan mengagungkan demokrasi ini? (*)

    About the author /


    SUARA DEWAN XV/III/2017

    SUARA DEWAN XV/III/2017

    Kediri On The Spot

    Kontak Kami



    ALAMAT KANTOR : Jalan Soekarno-Hatta 1 Kediri

    Telp : (0354) 681862 - Fax : (0354)695883

    EMAIL :

    - setwan@kedirikab.go.id

    - setwandprdkabkediri@gmail.com

    - setwandprdkedirikab@yahoo.com


    March 2016
    MTWTFSS
    « Feb Apr »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031