DPRD Bagaimana Profesionalismenya ?

    Bila profesional dimaknai sebagai pemegang jabatan untuk jabatan atau kelompok  jabatan tertentu dimana dengan jabatan itu menawarkan layanan atau jasa atas keahlian yang dimiliki dengan imbalan tertentu atau gaji, maka akan menjadi menarik apakah menjadi anggota Dewan itu dapat disebut sebagai profesional.  

    Menjadi menarik apakah benar dan salah atau sudah tepat ketika kita meminta Dewan dan perangkatnya untuk bersikap profesional dan selalu menjaga profesionalismenya. Karena tuntutan tersebut membawa konsekuensi-konsekueansi tertentu bagi siapapun yang disebabkan karena dilandasi oleh latar dan sudut pemikiran berbeda. Tuntutan itu begitu lumrah dan marak terdengar apalagi cukup banyak sebagian dari masyarakat dan pemilih termasuk media menyuarakan slogan yang penuh harap tersebut di tengah-tengah keinginan untuk membangun kalaupun tidak disebut memperbaiki kinerja lembaga perwakilan ini bersamaan dengan realitas bahwa kadar kepercayaan mereka yang sangat dinamis.
    Profesi, Profesional dan Profesionalisme
    Untuk dapat menyebut profesional dan profesionalisme, maka haruslah jelas bahwa yang dimaksudkan tersebut memang benar-benar ditujukan kepada sebuah profesi tertentu. Kedua istilah, memperlihatkan bahwa hanya dengan profesi yang jelas maka tuntutan atas profesional dan profesionalisme dapat disebut dan dimintakan. Profesi sebenarnya merujuk kepada jabatan atau pekerjaan tetentu yang mengharuskan adanya keahlian pada bidang bersangkutan, standar kompetensi, tata aturan perilaku (code of conduct), penegakan kode etik profesi dan sebagian terdapat jenjang karir yang pasti. Sementara profesional hanya ditujukan kepada para pemegang dan pemangku jabatan bersangkutan.
    Pemahaman di atas juga menegaskan bahwa profesi dapat dimasuki oleh orang-orang yang memang memiliki modal atau bekal keahlian tertentu secara teruji atau diakui, ketrampilan yang terstandarisasi dan kekhususan (spesifikasi) yang membedakan dengan profesi yang satu dengan yang lain. Untuk memastikan keahlian seseorang tersebut dilakukan dan ditetapkan melalui seleksi dan sejumlah ujian melalui tahapan-tahapan tertentu. Tahapan ini dimaksudkan menjadikan sebuah profesi tertentu makin terukur stadarisasi dan spesifikasinya, serta makin mengokohkan dan mengukuhkan kedudukannya di tengah khalayak, dunia usaha, pemerintahmaupun bersama profesi-profesi lainnya.
    Standarisasi merupakan upaya untuk memberikan jasa dan layanan profesi yang diberikan kepada masyarakat dan para pengguna berada pada kualitas yang seragam. Kualitas layanan yang berada pada batas-batas minimal walau dimanapun tempat dan kapanpun pelayanan tersebut diberikan. Standarisasi mutu pelayanan menjamin adanya kepastian bagi para pengguna atau masyarakat yang menikmati layanan tersebut.
    Oleh karena itu, guna mewujudkan dan mempertahankan sebuah profesi maka bagi para profesional perlu menjaga profesionalisme mereka. Bahwa dengan profesionalisme, spirit individual dan kelompok tetap berada pada standar pelayanan dengan kualitas yang diakui dan nilai-nilai yang telah disepakati dan dilestarikan bersama. Menjaga profesi melalui profesionalisme ini amat penting, bahkan mutlak diperlukan. Para profesional tidak sekedar memberikan pelayanan dimana kewajiban profesionalnya terpenuhi namun lebih dari itu juga dituntut mewujudkan loyalitas mereka atas profesi tersebut. Hal ini sangat mendasar, karena bersangkutan dengan eksistensi profesi tersebut dapat diterima atau diakui oleh masyarakat dan pasar atau sebaliknya. Sebab itu, menjaga perilaku para profesional bagi setiap profesi secara otomatis dibutuhkan oleh mereka sendiri, sekalipun kontrol juga diberikan oleh masyarakat dan pengguna layanan. Bahkan untuk memastikan hubungan sebuah profesi dengan para pengguna atau masyarakat, agar dapat menjaga kualitas dan standar layanan,mereka memandang perlu menentukan batas-batas minimal sebuah imbalan yang dapat diterima atas jasa yang mereka diberikan.

    Profesionalisme DPRD
    Bila profesional dimaknai sebagai pemegang jabatan untuk jabatan atau kelompok jabatan tertentu dimana dengan jabatan itu menawarkan layanan atau jasa atas keahlian yang dimiliki dengan imbalan tertentu atau gaji, maka akan menjadi menarik apakah menjadi anggota Dewan itu dapat disebut sebagai profesional. Dengan menilik pengertian profesi, serta sejumlah persyaratan dan tuntutan yang mesti dipenuhi adalah kurang tepat menyebut anggota DPRD sebagai profesi ataupun sebagai kelompok profesional. Memperhatikan tahapan dan persyaratannya untuk memasuki dan mendapatkan status sebagai anggota DPRD, maka dapat dikatakan bahwa ‘profesi’ anggota DPRD memiliki bobot dan nilai lebih dari di atas. Karenanya wajarlah lembaga dan anggotanya disebut sebagai ‘yang terhormat’, disamping karena memang beban tanggungjawab yang begitu mulia dan berat.
    Untuk menjadi anggota DPRD yang sejatinya adalah mewakili rakyat para pemilih tidak mengharuskan memiliki modal atau bekal keahlian tertentu secara sama sebagai persyaratannya sehingga dapat tergabung dalam sebuah kelompok profesi yang sama pula. Menjadi anggota DPRD adalah orang-orang pilihan yang dipercaya dapat mengemban amanat pemilihnya, dapat berasal dari latar belakang profesi, kedudukan dan status yang berbeda. Artinya siapapun yang terpilih, karena memang proses seleksi berdasarkan pemilihan, maka di atas pundaknya diberikan tanggungjawab tersebut dan diberikan status baru sebagai wakil rakyat. Karena itulah, menjadi anggota DPRD dan duduk di lembaga ini lebih tepat merupakan sebuah bentuk ‘pengabdian’ kepada mereka yang diwakili. Sebuah posisi yang sangat mulia dan terhormat.
    Selanjutnya apakah dengan demikian tidak ada profesionalisme. Profesionalisme tetap dibutuhkan. Bahwa profesionalisme merupakan wujud kesungguhan terhadap pelaksanaan tanggungjawab yang diberikan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan maka dimanapun kedudukan dan statusnya tetap diperlukan. Tentu saja, termasuk bagi anggota DPRD yang mengabdikan dirinya melalui lembaga yang terhormat ini. Bahwa kesungguhan untuk menjalankan amanat dan kepercayaan yang diberikan agar marwah atau kehormatan diri dan lembaga ini terjaga itupun juga bagian dari profesionalisme. Demikian juga, dengan menjaga konsistensi dan penuh semangat agar mampu mewujudkan kinerjanya yang makin aspiratif dan meningkat atas pelaksanaan sejumlah tugas dan fungsinya dapat terlaksana juga bagian dari profesionalisme tersebut. Berat memang, itulah pilihan, dan semoga Alloh memudahkan semua. Aaamiin…..*** Penulis  Dr. Mohamad Solikin

    About the author /


    SUARA DEWAN XVI/III/2017

    SUARA DEWAN XVI/III/2017

    Kediri On The Spot

    Kontak Kami



    ALAMAT KANTOR : Jalan Soekarno-Hatta 1 Kediri

    Telp : (0354) 681862 - Fax : (0354)695883

    EMAIL :

    - setwan@kedirikab.go.id

    - setwandprdkabkediri@gmail.com

    - setwandprdkedirikab@yahoo.com


    March 2017
    MTWTFSS
    « Feb Apr »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031